Jumat, 13 Januari 2012

Artikel Pejaskesor

Peningkatan   Prestasi  Belajar  Lompat  Jauh  Dalam Pelajaran Penjaskes Melalui  Penggunaan  Alat  Peraga  Bilah  Bambu  Bagi  Siswa  Kelas  X 
Program  Multimedia  Smk  Negeri  9 Surakarta 
Semester Genap Tahun Pelajaran 2010/2011

Oleh : Budi Sutrisno
( Guru Penjaskes SMK Negeri 9 Surakarta)

ABSTRAK

Perlu diketahui bahwa kemampuan siswa kelas X SMK Negeri 9 Surakarta sejumlah 350 orang belum semuanya dapat melakukan lompat jauh dengan hasil yang di harapkan, hal ini disebabkan siswa siswi belum menguasai tehnik dasar lompat jauh dengan baik. Faktor lain yang menjadi penyebab adalah belum adanya penggunaan alat peraga yang dipakai oleh guru untuk meningkatkan prestasi lompat jauh siswa siswi kelas X SMK Negeri 9 Surakarta.
Penelitian bertujuan untuk mengetahui Apakah Melalui Penggunaan Alat Peraga Bilah Bambu Penjaskes Dapat Meningkatkan Prestasi Lompat Jauh Dalam Pelajaran Penjaskes Bagi Siswa Kelas X Program Multimedia SMK Negeri 9 Surakarta Pada Semester Genap Tahun Pelajaran 2010/2011. Sebagai subyek penelitian adalahs eluruh siswa kelas IX Multimedia semester genap yang berjumlah 34 anak yang terdiri atas 20 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan.
Prosedur penelitian yang digunakan adalah jenis Penelitian Tindakan Kelas yaitu dengan cara melakukan tindakan perbaikan dalam proses belajar mengajar dalam rangka meningkatkan penguasaan kompetensi yang terukur dengan penggunaan alat peraga.
Setelah menganalisis kondisi awal peneliti melakukan tindakan berupa siklus I dan siklus II. Dari data-data yang ada dikumpulkan dan dianalisis untuk menjawab permasalahan yang dikemukakan.
Bertolak dari Kondisi awal dari 34 siswa yang mendapatkan nilai 60 - 65 sebanyak 13 siswa atau  38,24%, nilai 66-70 sebanyak 20 siswa atau 58,82% ,sedangkan nilai 71-75 hanya ada 1 siswa atau 2,94%.
Dan dari siklus  1 diperoleh data  sebagai berikut :
Dari  34 siswa yang mendapatkan nilai 60 - 65 sebanyak 7 siswa atau  20,59%, nilai 66-70 sebanyak 9  siswa atau 26,47% , sedangkan nilai 71-75 ada 17 siswa atau 50%dan yang mendapat nilai 75 – 80 hanya ada 1 siswa atau 2,94%
Dan untuk nilai rata-rata pada siklus 2 adalah sebagai berikut :
Dari  34 siswa yang mendapatkan nilai nilai 66-70 sebanyak 8  siswa atau 23,53%, sedangkan nilai 71-75 ada 15 siswa atau 44,13% dan yang mendapat nilai 75 – 80 hanya ada 11 siswa atau 32,35%.

Kata Kunci : Hasil Belajar, Alat Peraga






PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Perlu diketahui bahwa kemampuan siswa kelas X SMK Negeri 9 Surakarta sejumlah 350 orang belum semuanya dapat melakukan lompat jauh dengan hasil yang di harapkan, hal ini disebabkan siswa siswi belum menguasai tehnik dasar lompat jauh dengan baik. Faktor lain yang menjadi penyebab adalah belum adanya penggunaan alat peraga yang dipakai oleh guru untuk meningkatkan prestasi lompat jauh siswa siswi kelas X SMK Negeri 9 Surakarta .
Diharapkan dengan menggunakan alat peraga oleh guru penjaskes SMK Negeri 9 Surakarta dapat meningkatkan kemampuannya dalam melakukan lompat jauh .
Penggunaan alat peraga oleh guru penjaskes  SMK Negeri 9 Surakarta terhadap siswa siswi di dalam melakukan lompat jauh akan memberikan konstribusi yang positif baik secara psikologis maupun secara teoritis.
Oleh karena itu perlunya pengunaan alat peraga oleh guru penjaskes SMK Negei 9 Surakarta terhadap siswa dalam melakukan lompat jauh  merupakan cara yang efektif agar siswa dapat melakukan lompat jauh dengan baik dan benar.
Pengunaan alat peraga oleh guru penjaskes SMK Negeri 9 Surakarta terhadap siswa kelas X SMK Negeri 9 Surakarta dapat dilakukan pada waktu jam pelajaran penjaskes.
Rumusan Masalah
“Apakah Melalui Penggunaan Alat Peraga Bilah Bambu  Dapat Meningkatkan Prestasi Lompat Jauh Dalam Pelajaran Penjaskes Bagi Siswa Kelas X Program Multimedia SMK Negeri 9 Surakarta Pada Semester Genap Tahun Pelajaran 2010/2011 ?”

Tujuan Penelitian
Untuk meningkatkan kemampuan siswa  dalam melakukan lompat jauh siswa kelas X Mulimedia Semester Genap SMK Negeri 9 Surakarta Tahun Pelajaran 2010/2011.



TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Prestasi
Prestasi merupakan hasil yang didapat oleh seseorang setelah melakukan kegiatan. Hal ini sesuai dengan makna prestasi yang diungkapkan oleh Poerwodarminto (1991 : 700) bahwa : Prestasi merupakan hasil yang telah dicapai (dari apa yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya)”. Dari ungkapan tersebut jelaslah bahwa prestasi akan terjadi setelah adanya kegiatan tertentu. Pendapat lain mengatakan bahwa “Prestasi merupakan hasil usaha yang dilakukan dan menghasilkan perubahan dan dinyatakan dalam bentuk yang menunjukkan kepada anak atas kemampuannya dalam mencapai hasil kerja dalam waktu tertentu (Sutartinah : 1989)




Konsep Belajar
Masalah belajar merupakan masalah yang dihadapi oleh setiap orang sepanjang masa. Hal ini disebabkan karena hampir semua kecakapan, ketrampilan, pengetahuan, kebiasaan, kegemaran, semua itu terbentuk dan berkembang karena belajar, diantaranya Winkel (1996 : 36) yang mengatakan bahwa “belajar adalah suatu aktivitas mental (psikis) yang berlangsung dalam interaksi lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan pengetahuan, pemahaman ketrampilan dan nilai sikap, perubahan itu bersifat konstan dan berbekas”. Sedangkan menurut ahli lain belajar dapat diartikan suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Rochman Nata Widjaya, 1978 : 13). Sedangkan menurut Nasution Belajar adalah perubahan kelakuan berkat pengalaman dan latihan. Belajar membawa perubahan individu yang belajar, dan perubahan itu tidak hanya mengenai jumlah pengetahuan (Nasution, 1982 : 29). Ahli lain berpendapat “Belajar adalah suatu proses yang komplek yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup. Sejak dia masih bayi sehingga ke liang kubur nanti. Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar sesuatu adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. (Arif S. Sadiman, 1993 : 1)
Menurut Pasaribu dan B. Simanjuntak yang mengutip pendapat ER Hilgard (1983), yang menyatakan bahwa :
Belajar adalah stau proses perubahan, kegiatan, reaksi, terkadap lingkungan. Perubahan tersebut tidak dapat disebut belajar apabila disebabkan oleh pertumbuhan atau keadaan sementara seseorang seperti kelelahan atau disebabkan oleh obat-obatan (h.59)
Kemudian Sumadi Suryo Broto (1993) mengutip pendapat Gronbach, menejlaskan bahwa belajar yangs ebaik-baiknya adalah dengan mengalami dan menggunakan panca indera (h.47)
Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relative menetap atau tungkah laku potensial sebagai hasil dari pengalaman-pengalaman dan tidak dapat dihubungkan dengan keadaan tubuh saaat itu yang disebbakan oleh sakit, kelelahan, obat-obatan dan lain-lainnya.
Nuhi Nasution (1992), berpendapat bahwa :
Belajar adalah suatu proses yang memungkinkan timbulnya atau berubahnya tingkah laku sebagai hasil dari terbentuknya respon utama, dengan syarat bahwa perubahan atau munculnya tingkah laku baru itu bukan disebabkan oleh adanya perubahan sementara karena suatu hal (h.4)
Dari pengertian tersebut di atas mengandung beberapa hal yang merupakan ciri adanya aktivitas belajar antara lain :
1.            Belajar itu pada hekekatnya merupakan suatu aktivitas dari individu yang disengaja
2.            Belajar itu berlangsung terus menerus
3.            Hasil suatu belajar itu adanya suatu perubahan tingkah laku
  




Konsep Prestasi Belajar
Menurut Singgih D. Gunarso (1983) mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah “Hasil maksimum yang dicapai seseorang setelah melakukan suatu usaha belajar” (h.75).
“Prestasi belajar adalah merupakan suatu pernyataan perbuatan belajar (WS. Winkel, 1984, h.48)
Kemudian menurut Abraham H. maslow (1964: 87) mengatakan bahwa prestasi belajar sebagai lambing pemuasan hasrat ingin tahu. Hal ini didasarkan atas asumsi bahwa para ahli psikologi menyebut hal ini sebagai tendensi keingintahuan (Curiosity) dan merupakan kebutuhan manusia termasuk kebutuhan anak didik suatu program pendidikan.
 Bertolak dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah haisl maksimum yang dicapai olehs eseorang setelah melakukan kegiatan belajar, baik berupa angka-angka, huruf mauun tindakan dalam periode tertentu.

Penjaskes
Pendidikan Jasmani, Olahraga dan kesehatan merupakan proses pendidikan ang memanfaatkan aktvitas jasmani dan membiasakan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan kesehatan adalah meningkatkan kesehatan, kesegaran jasmani, dan mengembangkan keterampilan gerak melalui berbagai aktivitas jasmani.

Lompat Jauh
Lompat Jauh adalah salah satu nomor lompat dari cabang olahraga atletik yang bertujuan untuk mencapai jarak lompatan yang sejauh-jauhnya. Gerakan lompat merupakan salah satu gerak dasar manusia. Anak-anak pada umumnya suka melompat-lompat untuk menyatakan kegembiraannya. Melompat sebenarnya berlari dengan tekanan. Melompat ke arah depan lazim disebut lompat jauh, sedang lompat secara vertikal disebut lompat tinggi. Melompat bisa dilakukan dengan awalan maupun tanpa awalan, dan dapat dilakukan dengan tumpuan satu kaki atau dua kaki.

Sebilah Bambu
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Bilah bambu adalah belahan bambu (kayu, dan sebagainya) yang tipis dan panjang.

Hipotesis
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir, maka hipotesis yang penulis temukan adalah :
“Dengan Penggunaan Alat Peraga Bilah Bambu Dapat Meningkatkan Prestasi  Lompat Jauh Dalam Pelajaran Penjaskes Bagi Siswa Kelas x Jurusan multi media smk Negeri 9 Surakarta Pada Semester Genap Tahun Pelajaran 2008 / 2009”




METODOLOGI PENELITIAN
Setting Penelitian Dan Subyek Penelitian
Penelitian dilaksanakan mulai bulan Januari 2009 sampai dengan bulan Juni 2009. Dengan demikian berlangsung selama 6 bulan atau satu semester. Waktu tersebut dipilih dengan alasan bahwa kompetensi yang terkait dengan materi penelitian ini dilaksanakan bertepatan dengan bulan kedua dari semester genap Tahun Pelajaran 2010/2011. Penelitian Tindakan Kelas ini mengambil tempat di Lapangan Lompat Jauh SMK Negeri 9 Surakarta Tahun Pelajaran 2010/2011.
Sebagai subyek dari Penelitian Tindakan Kelas ini adalah seluruh siswa  kelas X Program Keahlian Multimedia Semester Genap SMK Negeri 9 Surakarta Tahun Pelajaran 2010/2011, jumlah siswa tersebut adalah 34 Siswa.

Tehnik dan Alat Pengumpulan Data
Tehnik yang digunakan dalam penelitian ini meiputi : (1) Tehnik Observasi, yaitu pengamatan terhadap subyek penelitian, di mana penulis mencatatnya dalam lembar observasi. Hasil pengamatan tersebut, Tehnik dokumentasi, yaitu pengumpulan data berupa catatan-catatan

Validitas Data
Data yang valid sangat diperlukan dalam sebuah penelitian. Hal ini adalah untuk menghindarkan dari suatu kesalahan dalam hasil maupun kesimpulan dari kegiatan ini. Pada Penelitian Tindakan Kelas ini untuk mendapatkan data yang valid dari hasil-hasil kegiatan belajar mengajar materi Penjaskes yang ditempuh dengan cara-cara sebagai berikut :
1.      Peneliti membuat soal atau perintah yang berupa penugasan. Hal ini dikarenakan kompetensi yang harus disampaikan kepada siswa semua sudah diatur dalam kurikulum dan pada suatu waktu tertentu harus diuji untuk mengetahui sejuah mana kompetensi tersebut telah dikuasai oleh siswa.
2.      Setalah soal penugasan disampaikan maka langkah berikutnya adalah mengamati, mencatat  dan mengawasi sejauh mana siswa dapat memahami dan melaksanakan perintah sesuai dengan petunjuk. Untuk menjaga agar hasil lompatan siswa maksimal maka perlu pengawasan dan pengamatan peneliti.

HASIL PENELITIAN
Dalam bab ini dikemukakan hasil-hasil dari kegiatan penelitian yang meliputi deksripsi data, hasil analisa dan pengolahan nilai kondisi awal, hasil pengolahan nilai dari siklus 1 dan 2 serta analisa pengujian hipotesis dari data-data yang telah dipersiapkan serta kesimpulan pengujian hipotesis.
Dari hasil pengamatan dapat diperoleh perbandingan antara kondisi awal, Siklus I dan Siklus II sebagai berikut :
Perbandingan  antara kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
No
Nilai
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
1
61 – 65
13
7
0
2
66 – 70
20
9
8
3
71 – 75
1
17
15
4
76 – 80
0
1
11

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam diagram batang di bawah ini :
PENUTUP
Kesimpulan
1.      Berdasarkan kajian teori yang telah dikemukakan, dapat diperoleh kesimpulan bahwa penggunaan alat peraga yang baik dan maksimal akan sangat berpengaruh terhadap peningkatannilai hasil belajar siswa. Selain itu penggunaan alat peraga dapat mencegah terjadinya verbalisme.
2.      Oleh karena itu penggunaan alat peraga perlu diupayakan oleh setiap guru agar pencapaian tujuan kompetensi yang berupa nilai hasil belajar dapat tercapai secara maksimal.
3.      Kondisi awal dari 34 siswa yang mendapatkan nilai 60 - 65 sebanyak 13 siswa atau  38,24%, nilai 66-70 sebanyak 20 siswa atau 58,82% ,sedangkan nilai 71-75 hanya ada 1 siswa atau 2,94%. Dan dari siklus  1 diperoleh data  sebagai berikut :Dari  34 siswa yang mendapatkan nilai 60 - 65 sebanyak 7 siswa atau  20,59%, nilai 66-70 sebanyak 9  siswa atau 26,47% , sedangkan nilai 71-75 ada 17 siswa atau 50%dan yang mendapat nilai 75 – 80 hanya ada 1 siswa atau 2,94%. Dan untuk nilai rata-rata pada siklus 2 adalah sebagai berikut :Dari  34 siswa yang mendapatkan nilai nilai 66-70 sebanyak 8  siswa atau 23,53%, sedangkan nilai 71-75 ada 15 siswa atau 44,13% dan yang mendapat nilai 75 – 80 hanya ada 11 siswa atau 32,35%.

Saran
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan, maka dapat diajukan saran-saran sebagai berikut :
1.            Bagi siswa
Hal ini diperlukan karena meskipun guru telah menjelaskan dengan alat peraga akan tetapi karena keterbatasan waktu, wawasan-wawasan yang bersifat teoritis tidak bisa secara menyeluruh diberikan oleh karena itu perlu dicari oleh siswa sendiri.
2.            Bagi guru, diharapkan dalam rangka memudahkan siswa mencapai kompetensi dan mneingkatkan nilai hasil belajar agar tidak melupakan penggunaan alat peraga dan media pemelajaran sebagai pendukung dalam proses belajar mengaja r.
3.            Bagi sekolah, perlu mendukung upaya guru untuk meningkatkan nilai hasil belajar dengan cara memfasilitasi penyediaan dan penggunaan alat peraga secara baik dan maksimal. Seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi media pembelajaran perlu menyesuaiakn sehingga dapat menambah motivasi dan mengurangi kejenuhan siswa dalam belajar.

DAFTAR PUSTAKA

Kurikulum. (2004) Buku GBPP SMK. Jakarta;

Departemen Pendidikan Nasional

Suharsimi Arikunto. (1986) Prosedur Penelitian. Jakarta Bina Aksara

Suharsimi Arikunto. (1989) Prosedur Penelitian. Jakarta, Edisi Revisi, Rineka Cipta

Slametto. (1987), Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta, Bina Aksara

Nochi Nasution (1992). Psikologi Pendidikan. Jakarta Departemen pendidikan dan Kebudayaan

Sumadi Surya B, (1993) Psikologi Pendidikan, Jakarta, Raja Grafindo Persada

Pasaribu dan B. Simanjuntak (1988) Proses Belajar Mengajar Bandung, Tarsito

Visi Sekolah SMK Negeri 9 Surakarta (2007)

MY. Ning Yuliastuti, (1985), Media Pembelajaran, Diktat FKIP UNS Surakarta, UNS Press

M. Affandi, (1998), Wawasan Pendidikan Seni dan Kriya Yogyakarta, PPPG Kesenian

Gramedia Pustaka Utama



Tidak ada komentar:

Posting Komentar