PENINGKATAN HASIL BELAJAR LEMPAR LEMBING GAYA HOP MELALUI PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN BERMAIN PADA SISWA KELAS X DISKOMVIS SMK NEGERI 9 SURAKARTA SEMESTER GASAL TAHUN PELAJARAN 2011 /2012 Oleh Budi Sutrisno (Guru Penjaskes SMK Negeri 9 Surakarta) |
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar lempar lembing gaya hop melalui pendekatan bermain pada siswa kelas X Diskomvis SMK Negeri 9 Surakarta Semester Gasal tahun pelajaran 2011/2012. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Sumber data dalam penelitian ini siswa kelas X. Diskomvis SMK Negeri 9 Surakarta Semester Gasal tahun ajaran 2011 / 2012 berjumlah 34 orang yang terdiri atas 14 siswa putri dan 20 siswa putra. Teknik pengumpulan data dengan obeservasi dan penilaian hasil belajar. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah secara deskriptif yang didasarkan pada analisis kuantitatif dengan prosentase. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh simpulan bahwa: Model pembelajaran dengan pendekatan bermain, sangat baik untuk meningkatkan hasil belajar lempar lembing gaya hop pada siswa kelas X Diskomvis SMK Negeri 9 Surakarta Semester Gasal tahun pelajaran 2011/2012. Dari hasil analisis yang diperoleh peningkatan yang signifikan dari siklus I dan siklus II. hasil belajar lempar lembing gaya hop pada siklus I dalam kategori tuntas adalah 47,04% jumlah siswa yang tuntas adalah 16 siswa. Pada siklus II terjadi peningkatan prosentase hasil belajar siswa dalam kategori tuntas sebesar 92,73%, sedangkan siswa yang tuntas 33 siswa Kata kunci : Lempar lembing, Peningkatan hasil belajar, Pendekatan bermain. |
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Pendidikan jasmani merupakan suatu proses pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan ketrampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, sikap sportif dan kecerdasan emosi. Tujuan yang ingin dicapai melalui pendidikan jasmani mencakup pengembangan individu secara menyeluruh. Artinya, cakupan pendidikan jasmani tidak hanya pada aspek jasmani saja tetapi juga aspek kognitif, afektif, dan psikomotor selain itu pendidikan jasmani juga mencakup aspek mental, emosional, sosial, dan spiritual.
Pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani didalamnya diajarkan beberapa macam cabang olahraga yang terangkum dalam kurikulum pendidikan jasmani. Salah satu cabang olahraga yang diajarkan dalam pendidikan jasmani yaitu atletik. Atletik merupakan induk dari semua cabang olahraga yang diajarkan dari sekolah tingkat paling rendah (SD) bahkan Perguruan Tinggi (PT). Seperti dikemukakan Yoyo Bahagia, Ucup Yusuf dan Adang Suherman (2000: 1) bahwa, “atletik merupakan salah satu mata pelajaran pendidikan jasmani kepada siswa dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SMP) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA)”.
Seorang guru pendidikan jasmani dan kesehatan untuk mencapai tujuan pembelajaran atletik, harus memperhatikan perkembangan anak, karakteristik anak, kemampuan anak dan kesukaan anak serta tujuan yang harus di capai. Cabang olahraga atletik didalamnya terdiri dari empat nomor utama yaitu jalan, lari dan lempar atau tolak. Dari setiap nomor tersebut didalamnya terdapat beberapa nomor yang diperlombakan. Untuk nomor lari terdiri atas: lari jarak pendek, jarak menengah, jarak jauh atau marathon, lari gawang, lari sambung, dan lari cross county. Nomor lompat meliputi: lompat jauh, lompat tinggi, lompat jangkit, lompat tinggi galah. Nomor lempar meliputi lempar cakram, lempar lembing, tolak peluru dan lontar martil.
Berkaitan dengan nomor-nomor atletik, penelitian ini akan mengkaji dan meneliti tentang pembelajaran nomor lempar khususnya lempar lembing gaya hop. Lempar lembing gaya hop merupakan suatu rangkaian gerakan yang diawali dengan awalan , lemparan dan gerak lanjut. Upaya membelajarkan lempar lembing gaya hop pada siswa sekolah perlu diterapkan cara mengajar yang baik dan tepat. Hal ini karena, para siswa pada umumnya belum menguasai teknik lempar lembing gaya hop, bahkan para siswa kurang senang dengan pembelajaran atletik.
Dunia anak lebih dekat dengan situasi permainan dari pada yang serius, di dalam pembelajaran disajikan banyak variasi-variasi agar tidak mudah jenuh sebab siswa kerap kali juga cepat bosan melaksanakan kegiatannya (Djumidar, 2007: 11)
Model pendekatan bermain, dimaksudkan untuk mengembangkan aspek-aspek kemampuan motorik melalui aktivitas bermain yang variatif, berjenjang tingkat kesulitannya. Permainan atletik merupakan kombinasi antara kegembiraan gerak dan tantangan tugas gerak yang dekat dengan pengalaman nyata. Dengan demikian guru dapat memanfaatkan pendekatan bermain ini untuk memotivasi siswa melakukan lempar lembing dengan memberikan materi yang merangsang untuk bermain, yaitu menggunakan pemanasan dengan permainan agar siswa senang dalam mengikuti pembelajaran lebih lanjut.
LANDASAN TEORI
Pengertian Lempar Lembing
Melempar merupakan proses gerak seseorang melakukan gerakan terhadap suatu benda agar suatu benda tersebut dapat dipindahkan sejauh mungkin. Menurut Yudha M. Saputra (2001: 67) pengertian lempar lembing adalah “merupakan salah satu kemampuan dalam melemparkan benda berbentuk lembing, sejauh mungkin”. Sedangkan menurut Soenarjo Basoeki (2003:89) lempar lembing adalah “salah satu nomor perlombaan dalam kelompok lempar di dalam cabang olahraga atletik”. Dari pengertian yang telah diberikan para ahli tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian lempar lembing adalah salah satu nomor dalam perlombaan atletik yang melemparkanbenda berbentuk lembing,sejauh mungkin.
Sedangkan lembing merupakan suatu benda yang terdiri dari mata lembing,badan lembing dan tali pegangan lembing. Mata lembing terbuat dari metal,badan lembing terbuat dari kayu atau metal atau bambu. Badan lembing yang terbuat dari metal dipergunakan dalm perlombaan resmi nasional ataupun internasional, dalam pendidikan biasa menggunakan bambu. Tali lembing terletak melilit pada titk pusat lembing.
Pengertian Bermain
Bermain sangat di sukai oleh anak karena sifat dari bermain sendiri menyenangkan. Menurut Yudha M. Saputra (2001: 6) menyatakan ”bermain adalah kgiatan yang menyenangkan”. Sedangkan Aip Syarifudin (2004: 17) mengartikan” bermain adalah bentuk kegiatan yang bermanfaat/produktif untuk menyenangkan diri”.
Bermain adalah aktifitas yang menyenangkan serius dan sukarela, di mana anak berada dalam dunia yang tidak nyataatau sesungguhnya. Bermain bersifat menyenangkan karena anak diikat oleh sesuatu yang menyenangkan, dengan tidak banyak memerlukan pemikiran. Bermain bersifat serius karena bermain memberikan sifat kesempatan untuk meningkatkan perasaan anak untuk menguasai sesuatu dan untuk memunculkan rasa untuk menjadi manusia penting. Bermain bersifat tidak nyata karena anak berada di luar kenyataan, denganmemasuki suatu dunia imajiner. Bermain memberikan suatu arena di mana anak masuk dan terlibat untuk menghilangkan dirinya, namun secara berlawanan asas anak kadang-kadang menemukan dirinya dari bermain (Furqon, 2008: 4)
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa bermain adalah aktifitas jasmani siswa yang dilakukan dengan rasa senang dan mempunyai tujuan pengembangan pertumbuhan dan perkembangan anak. Sehingga melalui bermain dapat memberikan pengalaman belajar yang sangat berharga untuk siswa.
Siswa dan bermain merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Bermain bagi siswa merupakan kebutuhan hidup seperti halnya kebutuhan akan makan,minum, tidur, dan lain-lain. Melalui bermain anak dapat mengaktualisasikan diri dan mempersiapkan diri untuk menjadi dewasa. Seperti halnya atletik adalah nuansa permainan menyediakan pengalaman gerak yang kaya dalam membangkitkan motivasi pada siswa untuk berpartisipasi.
Hibanna S. Rahman (2002: 85) mengartikan ”bermain adalah segala kegiatan yang dapat menimbulkan kesenangan bagi anak”. Selanjutnya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003: 698) bahwa ”bermain adalah melakukan sesuatu untuk bersenang-senang”. Sedangkan menurut Agus Mahendra (2004: 4) yaitu ”bermain adalah dunia anak, sambil bermain mereka belajar, dalam belajar, anak-anak adalah ahlinya”.
METODE PENELITIAN
Tempat Penelitian dan Subjek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 9 Surakarta dan Subjek yang diteliti dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah siswa kelas X Diskomvis SMK Negeri 9 Surakarta Semester Gasal tahun pelajaran 2011/2012, yang berjumlah 34 siswa,yang terdiri dari 14 siswa laki laki dan 20 siswa perempuan.
Teknik Pengumpulan Data dan Sumber Data
Adapun teknik pengumpulan data pada penelitian ini diantaranya melalui tes praktek, observasi lapangan, dan penyebaran angket atau kuisioner. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi informasi tentang keadaan siswa dilihat dari aspek kuantitatif dan kualitatif. Aspek kuantitatif yakni hasil pengukuran kemampuan penguasaaan lempar lembing pada siswa kelas X Diskomvis SMK Negeri 9 Surakarta Semester Gasal tahun pelajaran 2011/2012. Sedangkan aspek kualitatif didasarkan atas hasil pengamatan dan catatan pembelajaran selama penelitian berlangsung. Data penelitian dikumpulkan dari berbagai sumber, diantaranya :
a) Informasi mitra kolaboratif (guru pendidikan jasmani yang bersangkutan) dan siswa
b) Tempat peristiwa dan berlangsungnya aktifitas pembelajaran
c) Dokumentasi atau arsip yang antara lain berupa kurikulum, sekenario pembelajaran, silabus, buku penelitian dan buku refrensi mengajar.
Validasi dan Analisis Data
Data yang valid diperoleh melalui validasi. Validasi data yang diperoleh melalui pengumpulan data dengan menggunakan observasi, agar valid peneliti melibatkan observer dari teman sejawat.
Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian adalah langkah – langkah yang harus dilalui oleh peneliti dalam menerapkan metode yang akan digunakan dalam penelitian. Langkah selanjutnya adalah menentukan banyaknya tindakan yang dilakukan dalam setiap siklus. Dalam Penelitian Tindakan Kelas ini akan dilaksanakan tindakan yang berlangsung secara terus menerus kepada subjek penelitian.
Langkah–langkah PTK secara prosedurnya dilaksanakan secara partisipatif atau kolaboratif antara (guru dengan tim lainya) bekerjasama, mulai dari tahap orientasi hingga penyusunan rencana tindakan dalam siklus pertama, diskusi yang bersifat analitik, kemudian dilanjutkan dengan refleksi – evaluatif atas kegiatan yang dilakukan pada siklus pertama, untuk kemudian mempersiapkan rencana modifikasi, koreksi, atau pembetulan, dan penyempurnaan pada siklus berikutnya.
HASIL PENELITIAN
PRA SIKLUS
Hasil Belajar Lempar Lembing Gaya Hop Sebelum Diberikan Model Pembelajaran Dengan Pendekatan Bermain.
Kondisi hasil belajar lempar lembing gaya hop siswa kelas X Diskomvis SMK Negeri 9 Surakarta Semester Gasal tahun ajaran 2011 / 2012 sebelum diberikan tidakan model pembelajaran langsung disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:
Tabel 1. Diskripsi Data Awal Hasil Belajar Lempar Lembing Gaya Hop Sebelum Diberikan Tidakan Melalui Model Pembelajaran Dengan Pendekatan Bermain.
Rentang Nilai | Keterangan | Kriteria | Jumlah Anak | Prosentase |
>80 | Baik Sekali | Tuntas | 0 | 0% |
75 – 79 | Baik | Tuntas | 0 | 0% |
70 – 74 | Cukup Baik | Tuntas | 0 | 0% |
65 – 69 | Cukup | Tuntas | 0 | 0% |
< 64 | Kurang | Tidak Tuntas | 34 | 100% |
Jumlah | 34 | 100% | ||
Berdasarkan hasil diskripsi rekapitulasi data awal sebelum diberikan tindakan maka dapat dijelaskan bawa mayoritas siswa belum menujukan hasil yang baik, dengan prosentase ketuntasan belajar 0% siswa.
SIKLUS I
Hasil Belajar Lempar Lembing Gaya Hop Setelah Diberikan Model Pembelajaran Dengan Pendekatan Bermain.
Kondisi hasil belajar lempar lembing gaya hop siswa kelas X Diskomvis SMK Negeri 9 Surakarta Semester Gasal tahun pelajaran 2011/2012 setelah diberikan Tidakan I model pembelajaran dengan penekatan bermain disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:
Tabel 2. Deskripsi Data Hasil Belajar Lempar Lembing Gaya Hop Setelah Diberikan Model Pembelajaran Dengan pendekatan Bermain Tindakan I
Rentang Nilai | Keterangan | Kriteria | Jumlah Anak | Prosentase |
>80 | Baik Sekali | Tuntas | 3 | 8,82% |
75 – 79 | Baik | Tuntas | 6 | 17,64% |
70 – 74 | Cukup Baik | Tuntas | 3 | 8,82% |
65 – 69 | Cukup | Tuntas | 4 | 11,76% |
< 64 | Kurang | Tidak Tuntas | 18 | 52,94% |
Jumlah | 34 | 100% | ||
Berdasarkan hasil diskripsi data awal, hasil belajar lempar lembing gaya hop siswa kelas X Diskomvis SMK Negeri 9 Surakarta Semester Gasal tahun pelajaran 2011/2012 setelah diberikan Tidakan I adalah Cukup dengan prosentase 11,76%, Kurang dengan prosentase 52,94%, dan sisanya (Baik 17,64%; Cukup Baik 8,82%). Sejumlah 16 siswa telah mencapai kriteria Tuntas sedangkan 18 siswa Tidak Tuntas.
SIKLUS II
Hasil Belajar Lempar Lembing Gaya Hop Setelah Diberikan Model Pembelajaran Dengan Pendekatan Bermain.
Kondisi hasil belajar lempar lembing gaya hop siswa kelas X Diskomvis SMK Negeri 9 Surakarta Semester Gasal tahun pelajaran 2011/2012 setelah diberikan Tidakan II model pembelajaran dengan pendekatan bermain disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:
Tabel 3. Deskripsi Data Hasil Belajar Lempar Lembing Gaya Hop Setelah Diberikan Model Pembelajaran Denngan Pendekatan Bermain Tindakan II.
Rentang Nilai | Keterangan | Kriteria | Jumlah Anak | Prosentase |
>80 | Baik Sekali | Tuntas | 7 | 16,27% |
75 – 79 | Baik | Tuntas | 4 | 11,76% |
70 – 74 | Cukup Baik | Tuntas | 10 | 29,41% |
65 – 69 | Cukup | Tidak Tuntas | 12 | 35,29% |
< 64 | Kurang | Tidak Tuntas | 1 | 2,94% |
Jumlah | 34 | 100% | ||
Berdasarkan hasil diskripsi data awal, hasil belajar lempar lembing gaya hop siswa kelas X Diskomvis SMK Negeri 9 Surakarta Semester Gasal tahun pelajaran 2011/2012 setelah diberikan Tidakan II adalah Baik Sekali 16,27% sedangkan sisanya ( Baik 11,76%; Cukup Baik 29,41%; Cukup 35,29%; Kurang 2,94%). Sejumlah 33 Siswa mencapai kriteria Tunas sedangkan 1 siswa Tidak Tuntas.
Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan pada siklus I dan II dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan hasil lempar lembing gaya hop siswa kelas X.Diskomvis SMK Negeri 9 Surakarta Semester Gasal tahun pelajaran 2011/2012.
Tabel 4. Hasil Perbandingan Hasil Belajar Lempar Lembing Gaya Hop Setelah Diberikan Model Pembelajaran Denngan Pendekatan Bermain Siklus I dan Siklus II
Rentang Nilai | Keterangan | Prosentasi | ||
Data Awal | Siklus I | Siklus II | ||
>80 | Baik Sekali | 0% | 8,82% | 16,27% |
75 – 79 | Baik | 0% | 17,64% | 11,76% |
70 – 74 | Cukup Baik | 0% | 8,82% | 29,41% |
65 – 69 | Cukup | 0% | 11,76% | 35,29% |
< 64 | Kurang | 100% | 52,94% | 2,94% |
Melalui tabel perbandingan hasil belajar diatas apabila didistribusikan dalam grafik perbandingan, disajikan sebagai berikut:

Melalui grafik perbandingan hasil belajar lempar lembing gaya hop siswa kelas X.Diskomvis SMK Negeri 9 Surakarta Semester Gasal tahun pelajaran 2011/2012, terjadi peningkatan hasil belajar siswa mulai dari data awal, Siklus I dan Siklus II.
PENUTUP
Model pembelajaran dengan pendekatan bermain, sangat baik untuk meningkatkan hasil belajar lempar lembing gaya hop pada siswa kelas X.Diskomvis SMK Negeri 9 Surakarta Semester Gasal tahun pelajaran 2011/2012. Dari hasil analisis yang diperoleh peningkatan yang signifikan dari siklus I dan siklus II. hasil belajar lempar lembing gaya hop pada siklus I dalam kategori tuntas adalah 47,04% jumlah siswa yang tuntas adalah 16 siswa. Pada siklus II terjadi peningkatan prosentase hasil belajar siswa dalam kategori tuntas sebesar 92,73%, sedangkan siswa yang tuntas 33 siswa.
IMPLIKASI
Pemberian tindakan dari siklus I dan II memberikan deskripsi bahwa terdapatnya kekurangan atau kelemahan yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung. Namun, kekurangan-kekurangan tersebut dapat diatasi pada pelaksanaan tindakan pada siklus-siklus berikutnya. Dari pelaksanaaan tindakan yang kemudian dilakukan refleksi terhadap proses pembelajaran, dapat dideskripsikan terdapatnya peningkatan kualitas pembelajaran Penjas (baik proses maupun hasil) dan peningkatan hasil belajar siswa. Dari segi proses pembelajaran Penjas, penerapan model pembelajaran melalui pendekatan bermain ini dapat merangsang aspek motorik siswa. Dalam hal ini siswa dituntut untuk aktif dalam pembelajaran Penjas yang nantinya dapat bermanfaat untuk mengembangkan kebugaran jasmani, mengembangkan kerjasama, mengembangkan skill dan mengembangkan sikap kompettetif yang kesemuanya ini santa penting dalam pendidikan jasmani.
SARAN
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disarankan beberapa hal, khususnya pada guru Penjaskes , sebagai berikut:
1. Guru Penjaskes hendaknya terus berusaha untuk meningkatkan kemampuannya dalam mengembangkan materi, menyampaikan materi, serta dalam mengelola kelas, sehingga kualitas pembelajaran yang dilakukannya dapat terus meningkat seiring dengan peningkatan kemampuan yang dimilikinya. Selain itu, guru hendaknya mau membuka diri untuk menerima berbagai bentuk masukan, saran, dan kritikan agar dapat lebih memperbaiki kualitas mengajarnya.
2. Guru Penjaskes hendaknya lebih inovatif dalam menerapkan metode untuk menyampaikan materi pembelajaran.
3. Sekolah hendaknya berusaha menyediakan fasilitas yang dapat mendukung kelancaran kegiatan belajar mengajar.
4. Kepada guru Penjaskes yang belum menerapkan model pembelajaran dengan pendekatan bermain hendaknya mencoba teknik tersebut dalam pembelajaran Penjas sehingga nantinya dapat bermanfaat untuk meningkatkan hasil belajar anak didiknya.
DAFTAR PUSTAKA
Agus Mahendra. 2004. Azas dan Falsafah Pendidikan Jasmani. Jakarta: Depdiknas. Direktorat jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Tenaga Kependidikan. Bagian Proyek Pengendalian dan Peningkatan Mutu Guru Penjas Dikdasmen.
Aip Syarifuddin. 1992. Atletik. Jakarta: Depdikbud. Dirjendikti. Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.
Depdiknas. 2007/2008. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Standart Kompetensi dan Kompetensi Dasar Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Jakarta: Depdiknas.
Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
H.J. Gino, Suwarni, Suripto, Maryanto dan Sutijan. 1998. Belajar dan Pembelajaran II. Surakarta: UNS Press.
Soenarjo Basoeki. 2003. Atletik II. Surakarta: CV Masa Baru
Soepraptono, 2000. Sarana dan Prasarana Olahraga. Jakarta: Depdikbud.
Soetarno Joyoatmojo. 2003. Pembelajaran Efektif Upaya Peningkatan Kualitas Lulusan Menuju Penyediaan Sumber Daya Insani yang Unggul. Surakarta: UNS Press.
Suharno HP. 1993. Metodologi Pelatihan. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.
Suharsimi Arikunto. 1989. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Yudha M. Saputra. 2001. Dasar-Dasar Keterampilan Atletik Pendekatan Bermain untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Jakarata: Depdiknas. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar & Menengah. Bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Olahraga.
Yoyo Bahagia, Ucup Yusup, Andang Suherman. 2000. Atletik. Jakarta: Depdikbud
Tidak ada komentar:
Posting Komentar